Selasa, 10 Juni 2008

Lakuku
By Jacky Veidy Heyke

tawa renyah berderai
memecah kesunyian
yang penuh kepalsuan

senyum simpul
menyimpul wajah kaku
tersimpul oleh kusutnya
masalah hidup

sang jiwa terkurung
dalam kungkungan tubuh
yang telah termeterai
oleh identitas diri
yang tidak dimengerti
sejak ia lahir

pertanyaannya?

mengapa sang tubuh
lebih berkuasa menentukan
identitas sejati diri
daripada sang jiwa
bukankah sang tubuh
tanpa sang jiwa
mati...
sedangkan..
sang jiwa tanpa sang tubuh
kekal abadi?

wai!

dunia....

Jakarta, Februari 1999

Bengong
By Jacky Veidy Heyke

Jalan-jalan di tengah keramaian
Hiruk-pikuk dan deru kendaraan
merupakan lagu yang tak asing lagi

lampu merah... hm....
sejenak kuberhenti untuk menikmati
drama kehidupan manusia kota
tiba-tiba, lampu merah itu menyala,
klakson yang semula diam kembali menyalak...
gambaran jelas ketidaksabaran dan...
mungkin juga kesombongan...

aku hanya sesosok pribadi di tengah keramaian itu,
sambil berdiri, menggenggam map lusuh, usang,
warna merah buram kehitam-hitaman...
hitam... mungkin karena jelaga kota menempel
sekedar untuk memberi bukti ketahanan sejati
pengangguran terdidik... hm... senyumku pahit

kebisingan di hadapanku ini menawarkan daya magis
dan memagut perhatianku...
perlahan aku tidak lagi melihat kebisingan itu
tetapi aku melompat melewati alam kesadaranku

ya, pikiranku mulai meninggalkan ragaku
dunia nyata seketika maya...
pikiranku mulai...
merayau...
melambung...
dan...
... mulutku mulai sedikit demi sedikit terbuka
... pandanganku terpaku di satu titik pandang
namun tak ada arti apa-apa.... semua rata...
pikiranku mulai saling tumpang-tindih
dengan kenyataan yang menindih
hm... aku... separuh menyesali diri
... seorang sarjana dengan prestasi sangat memuaskan
... terdampar dari bursa kerja,
... bukan karena kebodohan atau ketidakmampuan
bukan karena tidak mampu mempertanggungjawabkan
setiap nilai yang tertera pada ijazah kumalku...

tapi, tersingkir oleh nepotisme tak bermartabat
yang mematikan daya kreatif anak bangsa
akibatnya... negeri ini semakin rusak dan tak mampu
bersaing, karena yang mengisi jabatan publik
adalah para anak-anak berotak udang dan kosong
yang kemudian mewariskannya, juga kepada
anak-cucu mereka yang juga berotak udang dan kosong

jadi lama-lama kita hanya akan menjadi bangsa
berotak udang dan kosong

kosong....

Prettt... aku terkejut, sebuah mobil Ferrari menyadarkan
lamunanku, dan ketika aku melihat ke pintunya yang terbuka
betapa terkejutnya aku, ketika melihat ada
udang tampan berotak kosong tertawa cengengesan...

duh...

Medan, 7 April 1994

... (medley)
By Jacky Veidy Heyke

I.
kelam perlahan
meliput terang
cahaya hilang
ditelan kegelapan

bintang berkelip
syahdu tertahan
cahaya-cahaya kecil
melintas di cakrawala

hari
bulan
tahun
berlalu..

namun malam
tetap kelam
buram
seperti aku
yang terbenam
dalam suram
kalam

II.
dalam kesepianku
kurenungi firmanMu
khusukku membangunkanku
dari kesepian tanpa arti
ke kesepian berarti

agung Kasih-Mu Tuhan
besar kuasamu

aku hanya setitik debu
di antara
seluruh umat kudus-Mu

III.
di antara sepi
aku menyepi
...
di antara nyata
aku sunyata
...
di antara rasa
aku dikarsa
...
di antara dian
aku terdiam
...
siapakah aku
sehingga aku merasa layak
dihadapan-Mu
...
kutuk-Mu adalah ketakutanku
kasih-Mu adalah kekuatanku
...
di antara benci
akulah panji
...
diantara suka
aku sukka
...
diantara cinta
aku citta
...
aku merana
...

Dumai, January 1991

Hari Nan Gersang
By Jacky Veidy Heyke

Aku berdiri...
dibatas akhir penantian
Hati remuk redam
serasa pahit kelu dibibir
Namun setitik pelita terang
‘tak kunjung temu

Bayang semu,
sosok tegar rapuh berdiri
di gersang senja sepi mencekam
Rona merah membasahi muka jiwa,
malu sekujur raga...

Mentari mencibir
dibalik mega senja kelam
Kepalaku tertunduk kaku
karang batu pikiran menghimpitku

Aku berdiri...
dibatas akhir penantian
Langkah serasa berat,
tersendat...
mencekat erat sukma meratap
Harapan sia terasa di kalbu
merobek penantian semu bertahun.

Mentari bergulir cepat
merambah hari lenyap
Kepekatan malam
menutup pandangan mata hati

Namun kuyakin,
esok langkah kepalsuan
kucoba selesaikan
bersama...
penantian di batas akhir
hari nan gersang.

Dumai, Maret 1990

Senin, 09 Juni 2008

Heathen Heart

Heathen Heart

By Jacky Veidy Heyke

live...
hear yea, o heathen heart
live...

made no raise
lying under pave
troubles by fake
yowl by the face in the bowl
no late but breath

awake...
hear yea, o heathen heart
awake...

made no tears
exposed through eyes
vanish by fate
brawl by the tongue in the prowl
no fast but spread

shout...
hear yea, o heathen heart
shout...

made no tease
conquer the ears
wipe out the fact
crawl the heart by the scowl
no rate but state

should I put any under the shoot
without deny the root of fault

o leave the leaves in the breeze
soul flying down…
disappeared after dawn

but…
it will come again in the midst of darkness..

taste...
hear yea, o heathen heart
taste...

the bitter of sin…

the eyes glowing by the tears
the sight blurred, ‘cannot see

But thy heart live o heathen heart


Medan, June 16, 2006 (completed)